Kuda Balap dan Kuda Kerajaan

Kamis, 23 Mei 2013



Hari ini adalah hari besar dimana sedang ada acara besar berlangsung di sebuah kerajaan. “Balap Kuda”  ya lomba balap kuda, namun aku tidak bisa mengikutinya, kenapa? Karena aku bukanlah kuda balap, karena aku tidak seprti mereka. Aku hanya seekor kuda kerajaan yang selalu ikut kemana tuanku melangkah, kemana tuanku mengajakku, menunggangiku. Namun mereka mencibirku, ya mereka, para kuda di area balap itu. “Apa yang kau bisa hah? Hanya berdiam dan menonton kami saja? Hahahaha lihatlah tubuhmu, kau mempunyai tubuh berwarna putih dan rambut yang panjang, sepertinya kau tak layak dibilang seorang pejantan” cibir seekor kuda hitam tegap yang melewat di pinggirku, dia sedang bersiap-siapuntuk mengikuti perlombaan. ‘Apa benar aku tidak layak dikatakan seorang pejantan? Kenapa? Apa sehina itukah aku?’ tanyaku dalam diam, aku hanya menyimak alur perlombaan tersebut aku berdiri di pinggir tuanku, sang pangeran kerajaan. Pangeran menatapku dan mengelus pundakku “Aku beruntung memilikimu” ucapnya padaku. Aku tidak tahu mengapa sang pangeran merasa beruntung memilikiku atau itu hanya untuk menghiburku saja? Entahlah, aku tidak seperti mereka, mempunyai kulit yang gelap dan rambut yang pendek juga badan yang berotot, kulitku putih cerah dan rambutku cukup panjang bagi pejantan, namun badanku tidak kalah dari mereka. Aku adalah kuda turunan Spanyol-Prancis namun sejak kecil aku sudah tinggal di kerajaan ini karena ayahku juga merupakan seekor kuda kerajaan yang dimiliki oleh seorang pangeran dulunya, pangeran itu kini telah menjadi seorang raja yang hebat dan putranyalah yang kini menjadi majikanku.
            Dulu ayahku sangat dibanggakan di kerajaan ini, karena dia selain menjadi kuda kerajaan dia juga adalah kuda petarung. Bukan kuda yang suka bertarung di area tarung, namun ayahku dulu adalah kuda petarung di medan perang. Ayahku dulu selalu diajak oleh tuannya jika akan terjadi peperangan dia sungguh mengagumkan hingga akhirnya dia terbunuh karena melindunggi raja dari busur panah yang ditembakan oleh musuh kerajaan. Jasanya sungguh di kenang dan aku berharap kelak aku bisa seperti dia. Kini acara sudah selesai, mereka, lagi-lagi mereka datang. Para kuda arena balap, mereka melewatiku sambil mencirku dan menertawakanku. Sungguh itu menjengkelkan. Tuanku mengajakku ke arena berkuda, ia menunggangiku dengan gagahnya. Balutan baju berkuda berwarna putih dan hitam, juga topi menambah kharismatiknya. Saat telah selesai berkuda tuanku mengajakku kesebuah ladang hijau yang sangat luas, benar-benar luas. Ada mata air yang mengalir disana tepat di depanku sekarang. “Tahukah kamu megapa aku mengajakmu kemari? Aku ingin menyadarkanmu kawan. Aku lihat kau bersedih tadi di arena balap, aku tahu aku seperti orang bodoh yang berbicara pada seekor kuda namun aku tahu kau merasa tidak nyaman. Coba kau lihat pada genangan air itu, berkacalah! Kau mempunyai kulit dan rambut yang indah, benar-benar indah. Kau sungguh cantik dan tahukah kau? Saat kau ku tunggangi kau sungguh anggun, kau adalah pejantan terindah yang pernah ku punya. Saat aku menunggangimu semua mata bukan tertuju padaku tapi padamu ya padamu, kau membuat hati setiap orang iri, bahkan akupun iri padamu. Jika kau Tuhan ciptakan menjadi seorang manusia mungkin hidupku tidak akan tenang, kenapa? Karena kau sungguh tampan, setiap gadis cantik tak berkedip melihatmu, membuat hati lelaki lain risau. Itulah, itulah yang dirasakan oleh para kuda di arena balap tadi. Mereka hanya iri padamu dan mereka ingin membuat nyalimu ciut. Hah! Sudahlah! Rasanya aku sudah gila berbicara padamu, tapi jika kau mengerti ingatlah itu” usap pangeran padaku dan akhirnya kamipun meninggalkan tempat ini.
            Kata-kata tuanku selalu teringgat olehku, keesokan harinya mereka datang lagi kini lebih banyak. Hitam & kecoklatan mendominasi disana. Kuda-kuda arena balap itu. “Hai kuda manja, bisakah kau kepakan rambutmu itu? Hahaha” seru seekor kuda yang aku kira dia adalah pemimpinnya. “Aku bukan seekor kuda manja, kau seperti ini karena kau iri padaku bukan” tegasku lantang mereka tidak terima dan mengajakku berlomba, lomba lari, yaa itu keahlian mereka namun akan kubuktikan aku seorang pejantan dan kuterima tawarannya. Tak pernah aku kira aku bisa berlari lebih cepat dari mereka, ternyata kakiku memang lebih panjang, badanku lebih tegap dan berisi dan rambutku sama sekali tidak mengganggu. Lomba selesai, aku memenangkannya, dan kini mereka harus mengakui bahwa aku benar-benar kuda pejantan. “Kau sungguh luar biasa! Aku benar-benar beruntung memilikinu” ternyata ada pangeran di belakangku dan berjalan kearahku, dia pun mengulangi kalimat yang sama seperti di arena balap kemarin. “Tahukah kau mengapa aku selalu merasa beruntung memilikimu? Dulu aku sempat akan tertabrak oleh gerombolan kuda yang sedang berpacu di arena balap, namun kau datang menyelamatkanku padahal waktu itu kau masih berumur 5 tahun masih muda masih sangat muda, mungkin jika kau tidak berlari kearahku dan menarikku pergi darisana aku tidak bisa melihat matahari terbit lagi keesokan harinya. Terima kasih” ucap tuanku sambil memeluk leherku. Dari situlah aku benar-benar beruntung memiliki tuan seperti dia, ternyata dia masih mengingat kejadian itu. Bukan hanya dia yang merasakan hal yang seperti itu. Dan kini aku bisa membuktikan pada mereka, kuda kerajaan bukan hanya bisa berlindung pada tuannya namun juga bisa melindungi tuannya, kelak aku akan seperti ayahku dulu.
-TAMAT-

5 komentar:

estidestikarani mengatakan...

Tumben sit ngomongin kuda :O tapi baguusss :bd

Siti Rohmah Sakinah mengatakan...

wkwkwkwkwkwk gatau sih, tiba-tiba. lagi mikirin dokter berkuda putih kayanya wkwkwk XD

Annisa Deswita mengatakan...

beuuu wkwkwkkw...........
bagusss sit baguss. cuma tdi ada huruf yg kurang kyknya wkwkkwkw

Siti Rohmah Sakinah mengatakan...

terima kasih ncokkkk :) wkwkwkw gatau ga liat =))

Annisa Deswita mengatakan...

sama-sama ncitttttttttttttttttttt :P wkkwkwk

Poskan Komentar

 

Lorem

Ipsum

Dolor